AC Milan Pilih Cara Instan Membangun Tim

AC Milan Pilih Cara Instan Membangun Tim
Font size:

Ada momen dalam sepak bola, ketika daftar nama yang muncul di bursa transfer terasa lebih sebagai teka-teki daripada jawaban. Musim panas tahun lalu, Luka Modric datang ke AC Milan setelah memutuskan pergi dari Real Madrid. Sementara Januari ini, Milan mendatangkan Niclas Fullkrug dengan status pinjaman. Sulit untuk tidak merasa aneh, karena kedua transfer ini bukan sekadar tentang kualitas individu di atas kertas, tetapi menimbulkan pertanyaan lebih besar tentang apa yang sedang dilakukan klub.

Di satu sisi, Milan bukan klub yang sedang berada di jurang kehancuran. Di sisi lain, mereka juga belum menemukan bentuk yang bisa disebut mapan, dan kedua transfer tadi seolah memberi sinyal kebingungan arah—bukan hanya soal siapa yang datang, tapi mengapa mereka datang.

Milan tampak berada di titik yang tidak terlalu buruk, tetapi juga belum benar-benar stabil. Skuad Rossoneri masih punya banyak nama berkualitas dan sejarah besar di Serie A. Namun, inkonsistensi hasil dan permainan terus menjadi sorotan publik. Musim lalu Milan gagal memenuhi ekspektasi untuk bersaing di level tertinggi. Hasilnya, tekanan untuk kembali ke papan atas Serie A masih kencang—bukan hanya demi gelar, tetapi juga demi menjaga marwah klub di kancah domestik dan Eropa. 

Di fase ini, kebutuhan utama Milan bukan hanya talenta individu, tetapi stabilitas performa dan identitas tim yang lebih jelas. Mereka bukan krisis total, tetapi tim yang belum sepenuhnya menemukan bentuknya lagi. Karena itu setiap langkah Milan di bursa transfer terasa begitu penting.

Modric sebagai Simbol, Bukan Proyek

Luka Modric AC Milan

Kedatangan Modric ke Milan pada musim panas lalu sulit untuk dipandang sebelah mata. Bukan sekadar soal nama besar, tapi apa yang ia bawa di punggunggnya. Sebagai pemain dengan karier panjang dan bergelimang trofi bersama Real Madrid, kehadiran Modric menawarkan figur kepemimpinan dan kontrol permainan di lini tengah. Hal itu yang sudah lama dirindukan Curva Sud bahkan Milanisti di seluruh penjuru dunia.

Namun, mengontrak pemain dengan usia yang sudah kepala empat bukan tentang investasi jangka panjang. Sebaliknya, Modric tampak sebagai isyarat kebutuhan instan, figur yang diharapkan memberi dampak cepat di ruang ganti dan di lapangan. Kehadirannya ditangkap sebagai sinyal bahwa Milan saat ini lebih memprioritaskan pengalaman dan kestabilan yang instan daripada pengembangan jangka panjang.

Milan pasti punya visi. Kontrak Modric sejatinya memang sampai Juni 2026 dengan opsi perpanjangan setahun, tetapi bukan bagian rencana jangka panjang dalam menyusun ulang fondasi tim untuk masa depan. Kehadirannya lebih terasa seperti tanggapan terhadap kebutuhan klub, sekaligus memberi pesan bahwa pengalaman dan kecerdasan permainan masih sangat dihargai di San Siro.

Sementara itu, kedatangan Fullkrug pada Januari ini memberikan nuansa lain dalam narasi transfer Milan musim ini. Penyerang asal Jerman itu tampak sebagai jawaban terhadap kebutuhan mendesak di lini depan yang memang sempat kekurangan sosok striker murni. Gol perdananya untuk Milan di Serie A ia cetak saat laga debutnya melawan Lecce. Hasil itu menunjukkan bahwa pemain yang dipinjam dari West Ham United itu bisa langsung berkontribusi.

Namun, transfer Fullkrug terasa bukan bagian dari visi besar yang matang, dan lebih sebagai solusi praktis di tengah situasi yang reaktif. Sebuah langkah yang logis pada jendela transfer Januari, di mana klub sering menambal kekurangan yang paling mendesak. Ini menimbulkan pertanyaan: apakah Milan tengah menyusun rencana besar jangka panjang, atau sekadar menjawab kondisi yang ada saat ini dengan solusi cepat?

Transfer Fullkrug memberi kesan pragmatisme mutlak. Selain itu, juga membuat kita bertanya apakah langkah ini lahir dari perencanaan strategis atau hanya jawaban situasional atas lubang skuad yang mendadak terasa.

Bukan Proyeksi Jangka Panjang

Niclas Fullkrug AC Milan

Jika ditarik garis antara Modric dan Fullkrug, ada kesamaan yang menarik, keduanya datang membawa pengalaman, dampak instan, dan bukan sebagai bagian dari proyek jangka panjang yang jelas. Modric berperan sebagai figur berpengalaman untuk lini tengah, Fullkrug menjadi jawaban langsung terhadap kebutuhan gol di lini depan. Namun, keduanya bukan cerminan dari visi pembangunan tim yang terstruktur.

Langkah ini seolah menegaskan bahwa Milan tengah sibuk menutup lubang yang muncul, bukan membangun fondasi kokoh yang tahan terhadap ketatnya dinamika kompetisi Serie A. Artinya, transfer yang mereka lakukan tampak seperti kompromi antara kebutuhan saat ini dan ambisi masa depan klub.

Solusi praktis namun mengandung risiko jika tak diikuti dengan arah yang lebih jelas. Ini bukan sekadar kritik, ini refleksi atas bagaimana langkah-langkah transfer sering mencerminkan kondisi internal klub lebih dari sekadar kualitas pemain yang dibawa masuk.

Dalam peta persaingan Serie A, posisi AC Milan berada di tengah antara rival utama. Inter Milan relatif stabil dengan kerangka tim yang matang, sementara Juventus sedang menjalani fase transisi panjang yang juga menuntut kesabaran. Napoli menunjukkan fluktuasi performa yang bergantung pada momentum, dan AS Roma berada di fase ambisius mencoba menyeimbangkan proyek jangka menengah dan tuntutan hasil cepat.

Dalam kondisi ini, Milan tidak sejelas Inter, tidak seberani Roma dalam “taruhan proyek”, dan tidak sepenuhnya sabar seperti Juventus yang menerima fase transisi. Posisi ini sebenarnya cukup rawan, terlalu banyak langkah pragmatis tanpa arah yang tegas bisa membuat mereka kehilangan indentitas sebagai penantang scudetto di Serie A setiap musimnya. Stabilitas adalah kunci.

Milan tak sepenuhnya keliru dalam pergerakan bursa transfer musim ini, meski juga belum meyakinkan dalam membangun tim jangka panjang. Modric dan Fullkrug tampak seperti jawaban terhadap kebutuhan mendesak, bukan bagian dari rencana besar yang terpancang sejak awal. Transfer ini lebih menunjukkan kegelisahan dan kebutuhan instan, bukan visi utuh yang jelas. Dan mungkin itulah refleksi paling jujur tentang situasi Rossoneri saat ini.

Penulis: Damar Susilo (Instagram: @damarsu_)

Saling Sikut Empat Besar Super League
Artikel sebelumnya Saling Sikut Empat Besar Super League
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait